Bab 6: Distorsi di Sudut Pasar

Jejak pekat seperti asap kotor itu meliuk-liuk di atas jalan tanah berbatu, merayap layaknya ular tak kasat mata melewati rumah-rumah warga yang mulai terbangun. Rian mengikuti jalurnya dengan napas tertahan. Ia harus menundukkan kepala, memfokuskan pandangan hanya pada jejak itu agar matanya tak tak sengaja bersirobok dengan warga desa yang berlalu-lalang. Ia belum siap dihantam oleh kilasan memori dan retakan waktu dari banyak orang sekaligus.

Jejak itu membawanya ke pusat desa yang mulai ramai—pasar tradisional. Aroma rempah, ikan segar, dan tanah basah bercampur di udara. Hiruk-pikuk suara pedagang dan pembeli berdengung di telinga Rian, kontras dengan hawa dingin tak wajar yang memancar dari garis hitam di bawah kakinya.

Garis itu tidak berhenti di kerumunan. Ia menyusup ke lorong sempit di belakang deretan los daging, mengarah ke sebuah kios tua yang sudah lama terlihat kumuh. Kios barang antik milik Pak Tondo, seorang kawan lama kakeknya.

Jantung Rian berdegup makin kencang. Ia mengintip dari balik kusen kayu yang lapuk. Di dalam kios yang temaram dan berdebu itu, Rian melihat pemandangan yang membuat darahnya berdesir.

Sosok berjubah gelap itu ada di sana. Ia melayang beberapa sentimeter dari lantai, menaungi tubuh ringkih Pak Tondo yang duduk mematung di kursi goyangnya. Mata pria tua itu terbelalak kosong. Dari ubun-ubun Pak Tondo, asap kelabu tebal yang sarat akan keputusasaan ditarik keluar perlahan, mengalir masuk ke dalam jubah sosok tersebut.

Entitas itu sedang memangsa penyesalan.

Rian tahu ia tak punya senjata. Ia bukan penyihir, apalagi pahlawan super. Namun, melihat temaram waktu Pak Tondo yang kian meredup, insting Penjaganya mengambil alih. Ia mendobrak pintu kios hingga berdebam keras.

“Lepaskan dia!” seru Rian, suaranya menggelegar melebihi dugaannya sendiri.

Sosok berjubah itu menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh perlahan. Di balik tudungnya yang gelap gulita, tak ada wajah yang terlihat, hanya sepasang titik merah menyala yang menatap Rian dengan tatapan meremehkan. Suara entitas itu tidak terdengar di udara, melainkan langsung menggema di dalam kepala Rian bak gesekan logam berkarat.

Kau pikir gelar barumu membuatmu berkuasa, Penjaga? bisik suara itu, membekukan isi kepala Rian. Kami adalah Distorsi. Kami adalah sejarah kelam yang dikurung kakekmu. Kami adalah penyesalan yang butuh diakui.

“Penyesalan bukan untuk dimangsa!” Rian melangkah maju, memaksakan kakinya yang gemetar. Ia teringat sensasi saat memegang pena bulu di Arsip Keabadian. Ia teringat pada cahaya perak dari sumpahnya. Rian mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, memusatkan tekadnya pada penolakan terhadap keputusasaan.

Ajaibnya, pendaran perak tipis mulai menyelimuti kepalan tangannya. Rian merangsek maju dan, tanpa berpikir panjang, mencengkeram lengan jubah sosok tersebut.

Sensasinya seperti memegang es kering yang membakar kulit, namun cahaya perak dari tangan Rian bereaksi keras. Terjadi letupan energi yang membuat entitas itu memekik ngeri—suara jeritan tumpang tindih dari ribuan jiwa yang tersiksa. Sosok itu terpental ke belakang, menabrak rak berisi jam-jam kuno hingga runtuh berantakan. Asap kelabu yang tadi ditariknya dari Pak Tondo terputus dan perlahan kembali ke tubuh sang pemilik.

Sosok berjubah itu bangkit dengan susah payah. Jubahnya tampak hangus di bagian lengan. Ia menatap Rian dengan kemarahan yang membara, namun ia tahu cahaya perak itu adalah racun baginya.

Kau boleh menang hari ini, Rian Arkatama, geram suara itu di kepalanya. Tapi kami tahu apa yang disembunyikan kakekmu di desa ini. Pecahan Jam Pasir Abadi ada di sini, dan ketika kami menemukannya… Hutan Rahasia akan kami ratakan.

Dalam kepulan bayangan hitam yang berputar cepat, sosok itu meledak menjadi debu dan melesat keluar melalui celah jendela, menghilang kembali ke arah kabut Hutan Rahasia.

Rian terengah-engah, jatuh terduduk di lantai berdebu. Cahaya perak di tangannya meredup dan menghilang. Di depannya, Pak Tondo terbatuk keras, tersadar dari transnya dengan wajah kebingungan melihat kiosnya yang berantakan.

“Rian…? Sedang apa kau di sini, Nak? Kenapa tempat ini berantakan begini?” tanya Pak Tondo dengan suara parau.

Rian hanya bisa menatap pria tua itu dengan napas yang masih memburu. Ancaman baru saja dilontarkan. “Pecahan Jam Pasir Abadi.” Benda apa itu? Dan mengapa kakeknya menyembunyikannya di desa, bukan di dalam Arsip?

Misteri baru saja terungkap! Entitas itu mengincar sebuah artefak kuat yang ditinggalkan kakek Rian di desa.

 Pecahan Kaca Ketiadaan

Napas Rian masih memburu. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, meninggalkan jejak di lantai berdebu kios barang antik tersebut. Ia buru-buru bangkit, mengabaikan sekujur tubuhnya yang terasa linu sehabis mengerahkan energi perak tadi, lalu membantu Pak Tondo berdiri.

“Maaf, Pak Tondo… saya tadi tersandung rak jam saat mengejar… kucing liar,” kilah Rian serabutan, mencoba merangkai alasan yang paling masuk akal bagi orang biasa.

Pak Tondo mengusap wajahnya yang keriput, tampak masih linglung. Ia menatap tumpukan jam kuno yang berserakan, lalu beralih menatap Rian. “Kucing liar? Tenagamu besar juga sampai bisa merobohkan rak kayu jati ini, Nak. Tapi… entahlah. Kepalaku pusing sekali, rasanya seperti baru saja terbangun dari mimpi buruk yang teramat panjang.”

Rian menelan ludah. Ia tahu persis mimpi buruk apa yang hampir menelan jiwa pria tua itu. Sambil berpura-pura membantu memunguti jam-jam saku yang berserakan, Rian memutar otak. Ia harus mencari tahu tentang artefak itu tanpa memicu kecurigaan lebih jauh.

“Pak,” panggil Rian hati-hati, memegang sebuah jam weker berbahan kuningan. “Dulu… Kakek sering kemari, kan? Apakah Kakek pernah menitipkan sesuatu pada Bapak? Sesuatu yang… mungkin berkaitan dengan waktu?”

Tangan keriput Pak Tondo terhenti di udara. Matanya menerawang, seolah menggali memori dari tumpukan debu di sudut kepalanya. “Kakekmu, Tirtayasa… dia pria yang penuh rahasia. Tepat tiga hari sebelum dia menghilang ke dalam hutan, dia memang datang kemari malam-malam saat hujan badai.”

Pria tua itu tertatih-tatih menuju bagian belakang kios yang minim cahaya, memberi isyarat agar Rian mengikutinya. Di sudut ruangan, tersembunyi di balik tumpukan karpet usang, terdapat sebuah brankas besi tua yang sudah berkarat. Pak Tondo memutar kombinasi angka dengan lambat dan gemetar, hingga terdengar bunyi berderit pelan.

Dari dalam brankas, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni kecil yang diukir dengan motif aneh dan menyerahkannya kepada Rian.

“Kakekmu bilang, apa pun yang terjadi, barang ini tidak boleh jatuh ke tangan siapa pun yang memiliki bayangan gelap di matanya,” ucap Pak Tondo parau. “Aku tidak pernah membukanya, Rian. Aku hanya menyimpannya seperti janjiku pada sahabatku.”

Tangan Rian bergetar saat menerima kotak itu. Kayunya terasa hangat, seperti memiliki denyut kehidupan. Begitu ia membuka kait tembaganya, pendaran keemasan yang sangat lembut langsung menerangi wajahnya. Di atas bantalan beludru hitam, tergeletak sebuah pecahan kaca melengkung seukuran telapak tangan.

Itu bukan sembarang kaca. Di dalam ketebalannya—seolah terjebak di antara ruang hampa—terdapat butiran pasir bercahaya yang terus mengalir dan berputar secara gaib, tak terpengaruh oleh gravitasi.

Tanpa sadar, Rian menjulurkan telunjuknya, menyentuh permukaan kaca itu.

Sebuah sentakan energi merambat lewat urat nadinya. Pandangan Rian seketika tersedot ke dalam pusaran waktu masa lalu. Ia tidak lagi berada di kios Pak Tondo. Ia berdiri di tengah Arsip Keabadian, melihat sosok kakeknya yang lebih muda berdiri putus asa di depan sebuah jam pasir kristal raksasa. Di sekeliling kakeknya, bayangan-bayangan Distorsi mengamuk ganas, mencoba merebut artefak itu.

Dengan raut wajah penuh kepedihan namun diiringi tekad yang bulat, kakeknya mengangkat sebuah tongkat besi berat dan menghantamkannya tepat ke tengah jam pasir tersebut.

Kaca pecah berhamburan. Gelombang kejut menyilaukan meledak, melemparkan bayangan-bayangan itu kembali ke sudut kegelapan, sementara pecahan-pecahan jam pasir itu terpental masuk menembus celah portal dimensi menuju dunia nyata. Kakeknya telah menghancurkan penyegel utama Arsip agar tidak disalahgunakan.

Kilasan itu memudar, menarik Rian kembali secara kasar ke kios berdebu. Napasnya tercekat. Kakinya lemas.

Namun, sebelum ia bisa mencerna apa yang baru saja dilihatnya, ransel di punggungnya mendadak terasa panas. Rian buru-buru membukanya dan mengeluarkan diari hitam warisan kakeknya. Buku itu terbuka dengan sendirinya ke sebuah halaman kosong. Tinta merah gelap kembali merembes dari balik serat kertas, membentuk kalimat ancaman yang membuat darah Rian membeku.

Satu keping telah kau sentuh, Penjaga Baru. Tiga keping lainnya kini beresonansi. Kami datang menjemputnya.

Rian menatap kepingan kaca di tangannya dengan ngeri. Alih-alih mengamankannya, sentuhan energi peraknya justru membangunkan pecahan tersebut bak menyalakan suar suar di tengah kegelapan malam. Kini, seluruh Distorsi di Hutan Rahasia tahu bahwa kepingan itu aktif, dan mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan keempat-empatnya. Perlombaan melawan waktu yang sebenarnya baru saja meletus.

Rian tanpa sengaja telah membunyikan “alarm” bagi para entitas gelap. Dengan sisa 3 pecahan yang entah ada di mana, apa langkah Rian di Bab SLENAJUTNYA? Apakah ia akan bergegas pulang untuk mempelajari diari, atau mencari teman untuk membantunya mengumpulkan artefak tersebut?

Pesan Moral
Penyesalan dan Keputusasaan adalah Beban yang Berat: Entitas Distorsi memangsa penyesalan Pak Tondo, yang menunjukkan bahwa membiarkan masa lalu dan rasa bersalah menggerogoti diri kita akan membuat kita rentan dan melemah secara mental. Kita harus belajar menerima dan berdamai dengan masa lalu agar tidak dikuasai olehnya.
Keberanian Tumbuh dari Tekad, Bukan dari Kekuatan Fisik: Meskipun Rian awalnya merasa tidak punya senjata dan bukan pahlawan, instingnya untuk melindungi sesama dan tekad yang bulat berhasil memunculkan kekuatan perak (cahaya) yang mengusir entitas kegelapan. Keberanian sejati lahir dari niat yang tulus untuk membela kebenaran.
Konsekuensi dari Sebuah Tindakan: Tindakan Rian yang menyentuh pecahan kaca dan mengaktifkan energinya menjadi pengingat bahwa setiap keputusan besar—sekalipun didorong oleh rasa penasaran atau niat baik—selalu membawa risiko dan konsekuensi yang harus dihadapi dengan penuh tanggung jawab.
Catatan Penulis (Author’s Note)
Eskalasi Konflik yang Lebih Luas: Di bab ini, skala cerita bergeser dari sekadar pengenalan peran Rian sebagai Penjaga baru di dalam ruang tertutup (Arsip Keabadian), menuju ancaman nyata di dunia luar. Kehadiran Distorsi di tengah desa dan terungkapnya Pecahan Jam Pasir Abadi menaikkan taruhan cerita (stakes) secara drastis.
Misteri Sang Kakek (Tirtayasa): Keputusan Kakek Tirtayasa menghancurkan jam pasir raksasa di masa lalu menyisakan dilema moral. Apakah tindakan itu bentuk penyelamatan agar artefak tidak jatuh ke tangan yang salah, atau justru menjadi pemicu kekacauan baru yang harus diselesaikan oleh cucunya? Hal ini memperdalam kompleksitas karakter sang kakek.
Tantangan untuk Rian: Dengan aktifnya “alarm” dari pecahan kaca tersebut, Rian tidak bisa lagi bersikap pasif. Bab ini menutup zona nyaman Rian dan melemparkannya ke dalam perlombaan waktu yang berbahaya—menuntut pertumbuhan karakter Rian dari seorang pemuda yang kebingungan menjadi seorang Penjaga yang tangguh.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *