Bab 8: Pengejaran di Ujung Napas

Mereka menerobos tirai air terjun tepat saat pilar cahaya ganda itu mulai memudar, menyisakan kilatan-kilatan statis di udara yang berbau ozon. Rian dan Laras terlempar ke bebatuan licin di tepi lubuk. Deru air kembali memekakkan telinga, seolah dunia nyata baru saja menelan mereka kembali.
Namun, dunia nyata kini tak lagi aman.
Dari arah Hutan Rahasia di seberang tebing, kepulan asap hitam pekat membubung tinggi menembus langit mendung. Asap itu tidak tertiup angin, melainkan bergerak melawan arah badai, meliuk-liuk di antara pepohonan pinus dan meluncur turun menuju jurang air terjun bagaikan kawanan lebah raksasa yang mengamuk.
“Naik! Cepat naik!” Rian berteriak, menarik Laras agar segera berdiri.

Mereka berdua memanjat tebing tanah yang curam dan berlumpur dengan kepanikan luar biasa. Akar-akar pohon yang menonjol menjadi satu-satunya pegangan mereka. Rian bisa merasakan hawa dingin yang tak wajar merambat naik dari dasar tebing, membekukan percikan air di ujung dedaunan. Jari-jari Laras tergelincir, nyaris membuatnya jatuh kembali ke lubuk, namun Rian dengan sigap menangkap kerah jaketnya dan menariknya ke atas dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Begitu sampai di bibir jurang, mereka tidak berhenti. Rian dan Laras berlari serabutan menembus semak belukar, menjauhi tebing sejauh mungkin, hingga paru-paru mereka terasa seperti terbakar. Mereka akhirnya melempar diri ke balik ceruk akar pohon tumbang raksasa yang tertutup rimbunnya paku-pakuan, bersembunyi dari pandangan udara.
Laras bersandar pada dinding tanah, memeluk tas selempangnya erat-erat sambil meraup oksigen dengan rakus. Kacamata bacanya berembun tebal. “Kita… kita tidak bisa lari membawa suar suar menyala di punggung kita, Rian,” napasnya tersengal. “Benda ini beresonansi!”
Rian membuka ranselnya sedikit. Benar saja, meski tidak lagi menembakkan pilar cahaya ke langit, kotak mahoni di dalamnya memancarkan kilau keemasan yang berdenyut seirama dengan cahaya biru kehijauan dari tas Laras. Seolah-olah kedua pecahan itu bernapas bersamaan.
“Mereka memanggil satu sama lain,” gumam Rian. Ia menyandarkan kepalanya ke akar pohon, merasakan pusing yang luar biasa mendera. Menggunakan energi perak tadi telah menguras separuh staminanya. “Distorsi itu bisa melacak getaran ini. Ke mana kita sekarang? SD?”
Laras buru-buru menggeleng, mengusap embun di kacamatanya dengan ujung baju yang basah. “Jangan gila! Sekolah dasar ada di tengah permukiman padat. Kalau kita ke sana membawa benda ini, bayangan-bayangan itu akan membantai warga desa. Ingat apa yang terjadi pada Pak Tondo di pasar?”

Rian memejamkan mata, mengutuk kelalaiannya sendiri. Laras benar. Membawa target buruan ke tengah desa sama saja dengan pembunuhan massal.
“Kita harus memancing mereka menjauh dari permukiman,” Laras membuka peta topografinya yang basah dan sedikit robek. Jari telunjuknya yang gemetar menunjuk ke sebuah titik di bagian timur peta. “Reruntuhan Kuil di Bukit Timur. Lokasinya terisolasi, medannya sulit dijangkau warga biasa, dan anomali magnetis di sana adalah yang paling kuat. Kita ambil kepingan ketiga di sana, baru kita pikirkan cara untuk mengambil kepingan terakhir di SD secara sembunyi-sembunyi.”
Rian mengangguk setuju. Ia menatap Laras dengan rasa kagum yang samar. Untuk seseorang yang baru beberapa jam lalu menganggap semua ini hanya mitos, Laras menunjukkan keberanian yang luar biasa.
Tiba-tiba, suara derak kayu patah terdengar dari arah semak-semak di depan persembunyian mereka. Hawa dingin seketika merasuk ke tulang sungsum. Rian menahan napas, memberi isyarat agar Laras tidak bersuara.
Dari sela-sela daun paku, Rian melihat sebelah kaki melangkah pelan. Bukan kaki manusia, bukan pula serigala. Itu adalah sepasang kaki lapuk berbahan kayu terbakar, melayang beberapa sentimeter dari tanah, mengenakan jubah compang-camping yang mengeluarkan asap kotor. Makhluk itu memegang sebuah lentera berkarat yang cahayanya berwarna merah darah.

Rian memfokuskan pandangannya, dan ‘mata waktunya’ aktif. Makhluk di depan mereka bukanlah entitas mandiri; itu adalah wujud fisik dari penderitaan masa lalu—sebuah perwujudan dari penduduk desa kuno yang tewas terbakar ratusan tahun silam, yang kini dikendalikan oleh Distorsi.
Makhluk itu berhenti tepat di depan ceruk tempat mereka bersembunyi. Lentera merahnya berayun lambat. Cahayanya perlahan merayap masuk, menyinari ujung sepatu Rian.
Jejak perak… tercium di sini… bisik suara berderit di dalam kepala Rian. Makhluk itu mulai menundukkan kepalanya yang tak berwajah ke arah ceruk.
Waktu seolah membeku. Jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Jika Rian menyerang sekarang, ia mungkin bisa menghancurkan makhluk ini, tapi ledakan energinya akan menarik puluhan Distorsi lain yang sedang menyisir hutan. Namun, jika ia diam, mereka akan segera ditemukan.
Ketegangan di balik akar pohon semakin memuncak! Apa yang harus dilakukan Rian dan Laras? Menyerang secara mengejutkan, menggunakan pengalih perhatian, atau Laras memiliki trik rahasia untuk mengecoh makhluk lentera tersebut?
Lingkaran Tanpa Ujung
Cahaya merah darah dari lentera itu merayap inci demi inci, menyinari ujung sepatu Rian. Hawa dingin pekat membekukan tetesan keringat di pelipisnya. Di sebelahnya, Laras memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara gemeretak giginya sendiri. Makhluk berbahan kayu hangus itu mencondongkan tubuhnya ke dalam ceruk, membawakan aroma daging terbakar dan kayu lapus yang menyesakkan dada.
Rian tahu ia tidak bisa menggunakan gelombang peraknya. Ledakan energi hanya akan mengundang ratusan makhluk serupa yang sedang berpatroli di hutan. Otaknya berputar cepat mencari celah.
Tiba-tiba, ia merasakan sentuhan dingin di telapak tangannya. Laras perlahan menyelipkan sesuatu ke dalam genggaman Rian—kompas logamnya yang jarumnya sudah patah. Gadis itu menatap Rian dengan isyarat mata yang tajam, lalu mengangguk pelan ke arah semak belukar yang lebat di seberang posisi mereka.

Rian segera memahami rencananya. Ia menutup mata, memfokuskan pikirannya bukan pada ledakan, melainkan pada setitik kecil kehangatan di pusat dadanya. Ia mengalirkan secuil energi dari Sumpah Perak ke ujung jarinya, membiarkan kompas logam itu menyerap pendaran tipis yang berdenyut layaknya detak jantung buatan.
Dengan satu gerakan cepat dan sunyi, Rian melempar kompas itu sekuat tenaga melewati bahu makhluk tersebut.
Kompas itu melayang membentuk parabola dan jatuh bergemerincing keras di semak-semak yang berjarak puluhan meter dari mereka. Pendaran perak samar memancar dari balik dedaunan. Makhluk lentera itu tersentak hebat. Bunyi logam dan jejak energi perak itu seketika mengalihkan perhatiannya. Dengan gerakan patah-patah yang mengerikan, entitas itu berbalik dan melayang cepat menembus semak-semak, memburu umpan tersebut.
“Sekarang!” bisik Rian.
Mereka berdua merangkak keluar dari ceruk dan berlari secepat mungkin ke arah yang berlawanan. Tidak ada jalan setapak. Mereka menerabas pakis berduri, melompati akar-akar pohon besar, dan menghindari dahan-dahan rendah yang seolah sengaja menjulur untuk menjerat kaki mereka. Adrenalin mengambil alih, menumpulkan rasa lelah dan perih akibat goresan ranting.

Setelah hampir satu jam berlari tanpa henti menembus kabut, vegetasi hutan perlahan berubah. Pohon-pohon pinus mulai digantikan oleh tebing-tebing batu padas. Di hadapan mereka, menjulang rute menanjak menuju Bukit Timur. Udara di sini terasa lebih berat, seolah gravitasi bekerja dua kali lipat lebih kuat.
Di puncak bukit yang tertutup kabut tebal, samar-samar terlihat siluet gapura batu kuno yang diselimuti lumut tebal—pintu masuk menuju Reruntuhan Kuil Timur.
“Kita berhasil sampai,” Laras tersengal-sengal, bersandar pada sebuah batu besar. Ia menatap ke arah tangga batu lebar yang meliuk naik menuju gapura kuil. “Pecahan ketiga ada di tengah altar utama di dalam reruntuhan itu. Aku yakin itu.”
“Ayo selesaikan ini sebelum mereka menyadari kompasmu cuma umpan,” Rian menarik napas panjang, menata kembali staminanya.
Mereka mulai menaiki undakan tangga batu kuno tersebut. Anak tangganya licin dan tidak rata. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Suara badai, rintik hujan, bahkan lolongan Distorsi dari hutan menghilang sama sekali. Yang terdengar hanyalah gema langkah kaki mereka berdua.

Rian terus melangkah naik, matanya tertuju pada gapura kuil di atas sana. Namun, setelah menaiki puluhan anak tangga dan merasa sudah hampir mencapai puncak, kabut tebal tiba-tiba menyapu pandangan mereka selama beberapa detik.
Begitu kabut tersibak, Rian terhenti. Laras nyaris menabrak punggungnya.
“Rian, kenapa bheren…” Kata-kata Laras tercekat.
Mereka tidak berada di puncak bukit. Mereka kembali berdiri di anak tangga pertama, persis di titik awal mereka mulai mendaki. Batu besar tempat Laras bersandar tadi kembali berada di samping mereka.
“Ini… ini mustahil. Kita tadi sudah mendaki tinggi sekali!” Laras menatap ke belakang, bingung.
Rian memejamkan mata dan mengaktifkan kemampuan Penjaganya. Dunia kembali meredup. Kali ini, ia tidak melihat masa lalu, melainkan aliran energi yang meliuk-liuk di sepanjang tangga batu tersebut. Alur waktunya berputar balik menjadi sebuah lingkaran sempurna yang tak berujung.
“Kakek tidak hanya menyembunyikan kepingan itu secara fisik,” gumam Rian dengan nada gentar. “Dia merangkai tangga ini menjadi ilusi ruang dan waktu. Selama kita hanya berjalan lurus ke atas, kita akan terus kembali ke titik awal. Ini adalah jebakan Time Loop.”
Mereka kini terjebak dalam teka-teki waktu buatan kakek Rian. Bagaimana cara mereka memecahkan ilusi tangga tanpa ujung ini? Apakah mereka harus berjalan mundur, menaiki anak tangga dengan urutan tertentu, atau Rian harus mengorbankan sebagian memori dari sumpahnya? Berikan idemu untuk memecahkan teka-teki ini di Bab Selanjutnya!
Catatan Penulis (Author’s Note)
- Eskalasi Ketegangan dan Ancaman Psikologis: Pada bagian ini, ancaman tidak lagi hanya berupa fisik (seperti serigala bayangan), melainkan bertransformasi menjadi teror psikologis dan misteri masa lalu. Kemunculan entitas berwujud penduduk desa kuno yang terbakar menunjukkan bagaimana sejarah buruk dapat dikuasai oleh Distorsi.
- Pengembangan Kerja Sama Tim yang Efektif: Rian dan Laras tidak lagi berjalan sendiri-sendiri atau saling mengandalkan satu pihak. Inisiatif Laras yang cerdik untuk memberikan kompas logamnya sebagai pengalih perhatian memperlihatkan bahwa Laras adalah mitra yang setara, cerdas, dan tangguh di saat-saat kritis.
- Cliffhanger berbasis Teka-Teki Ruang & Waktu: Pemunculan jebakan Time Loop (lingkaran waktu tanpa ujung) di tangga Reruntuhan Kuil Timur memberikan tantangan baru yang segar. Alih-alih mengandalkan kekuatan fisik atau pertarungan murni, Rian dan Laras dipaksa untuk memecahkan teka-teki logika dan magis demi menembus batasan ilusi waktu.
Pesan Moral
- Kepedulian terhadap Keselamatan Orang Lain: Keputusan Rian dan Laras untuk mengurungkan niat mendatangi sekolah dasar demi menghindari jatuhnya korban jiwa di permukiman padat mengajarkan kita tentang pentingnya mengutamakan kepentingan umum dan melindungi orang yang tidak bersalah di atas keselamatan diri sendiri.
- Ketenangan di Tengah Kepanikan: Ketika berhadapan dengan situasi yang mengancam nyawa (seperti saat makhluk lentera mengintip di ceruk persembunyian), kepanikan hanya akan membawa pada kehancuran. Pikiran yang tenang dan kerja sama yang cepat melahirkan solusi yang cerdas.
- Ketekunan dalam Menghadapi Hambatan: Jebakan tangga tanpa ujung (Time Loop) menggambarkan bahwa dalam hidup, rintangan terkadang tidak bisa diselesaikan hanya dengan cara yang biasa atau terus-menerus mengulang kesalahan yang sama. Dibutuhkan sudut pandang baru, strategi yang berbeda, dan ketajaman pikiran untuk memecahkan masalah yang rumit.