Menenun Asa di Antara Beton

Suara deru mesin dan klakson yang saling mengumpat menyambut Raka

Suara deru mesin dan klakson yang saling mengumpat menyambut Raka begitu ia melangkah keluar dari stasiun kereta komuter. Udara pengap bercampur debu jalanan langsung menyergap paru-parunya, sebuah kontras yang kejam jika dibandingkan dengan kabut sejuk yang baru tiga hari lalu ia hirup di lereng gunung. Di sekelilingnya, lautan manusia bergerak cepat, bergegas dengan wajah menunduk menatap layar ponsel, seolah dikendalikan oleh algoritma yang sama.

Namun, ada yang berbeda pada langkah Raka pagi itu. Jika biasanya ia menyeret kakinya menuju gedung perkantoran berlantai tiga puluh itu dengan perasaan hampa, kali ini kepalanya tegak. Di dalam tas kerjanya, terselip sebuah buku catatan bersampul kulit yang baru semalam ia beli. Di halaman pertamanya, ia telah menuliskan satu kalimat tebal: Rencana Pelarian Besar.

Siang itu, di tengah jam istirahat yang sempit, dering ponsel Raka berbunyi. Sebuah pesan masuk di grup obrolan yang baru saja Bima ubah namanya menjadi “Sindikat Pemimpi”.

Bima: Kedai Kopi Klandestin, jam 7 malam. Jangan ada yang lembur, atau kutinggal kalian selamanya di kubikel. Seno: Aku bawa amunisi pertama. Sampai jumpa.

Kedai Kopi Klandestin bukanlah tempat yang mewah. Terletak di ujung gang sempit di kawasan Blok M, kedai itu hanya memiliki lima meja kayu tua dan mesin espreso yang suaranya mirip traktor rusak. Tapi di sanalah mereka biasa berlindung dari bisingnya ibu kota.

Tepat pukul tujuh malam, Raka mendorong pintu kaca kedai. Lonceng kecil bergemerincing. Di sudut ruangan, Bima dan Seno sudah duduk berhadapan. Sebuah laptop terbuka di depan Bima, sementara Seno tengah menyusun tiga buah buku tebal di atas meja.

“Lihat ini,” sapa Bima tanpa basa-basi begitu Raka menarik kursi. Ia memutar layar laptopnya.

Di layar itu, sebuah video pendek mulai diputar. Visualnya kasar, namun penceritaannya jujur. Terlihat siluet hutan pinus yang tersapu matahari pagi, disusul adegan Raka yang sedang menyeduh kopi dengan nesting penyok, dan Seno yang menatap nanar ke arah kerlap-kerlip kota dari kejauhan. Latar suaranya adalah gemeretak api unggun dan obrolan tulus mereka malam itu. Judulnya sederhana: Di Balik Sepi: Episode 1.

“Aku menghabiskan dua malam mengedit ini setelah pulang kerja,” mata Bima berbinar, kantung matanya yang menghitam sama sekali tidak bisa menyembunyikan antusiasmenya. “Aku akan mulai mendokumentasikan perjalanan kita. Bukan hanya pendakian gunung, tapi pendakian kita keluar dari rutinitas gila ini. Aku sudah mengirimkan pitching kasarnya ke sebuah platform media independen.”

Raka tersenyum lebar, menepuk pundak Bima bangga. “Ini gila, Bim. Kau benar-benar melakukannya.”

“Giliranmu, Seno. Apa amunisi yang kau maksud tadi siang?” tanya Raka, beralih menatap sahabatnya yang berkacamata itu.

Seno menepuk tumpukan buku di depannya. Ada buku cerita anak-anak, novel klasik, dan sebuah ensiklopedia tua. “Aku sudah berbicara dengan ketua karang taruna di kawasan kumuh pinggiran rel kereta Manggarai. Mereka punya sebuah gardu bekas yang sudah tidak terpakai. Kalau kita bisa merenovasinya sedikit di akhir pekan, bulan depan ‘Perpustakaan Kopi di Balik Sepi’ sudah bisa beroperasi. Ini sumbangan pertamanya. Dari rak bukuku sendiri.”

Rasa hangat menjalar di dada Raka. Hanya dalam hitungan hari sejak malam perenungan di gunung itu, roda gigi mimpi yang berkarat kini mulai berputar kembali. Teman-temannya menepati janji mereka. Ia tidak boleh tertinggal.

Raka mengeluarkan buku catatan bersampul kulitnya, meletakkannya di tengah meja. Ia membuka halaman kedua yang berisi coretan angka, jadwal, dan peta kasar.

“Aku sudah mendaftar kelas pengolahan pascapanen kopi yang diadakan setiap Sabtu pagi di Bogor,” ucap Raka mantap, menatap kedua sahabatnya bergantian. “Tabunganku cukup untuk membeli sepetak kecil lahan di lereng Gunung Puntang tahun depan, jika aku memotong separuh dari biaya gaya hidupku sekarang. Mulai bulan ini, gajiku di kantor bukan lagi sekadar untuk bertahan hidup, tapi menjadi investor untuk mimpiku sendiri. Dan ketika perpustakaanmu buka nanti, Seno, aku yang akan menyuplai kopi seduhnya secara gratis.”

Malam itu, di sudut kedai kopi yang temaram dan berisik oleh celoteh pengunjung lain, ketiganya kembali menyatukan visi. Mereka tidak langsung mengajukan surat pengunduran diri secara gegabah; mereka terlalu rasional untuk itu. Sebaliknya, mereka menjadikan kota yang kejam itu sebagai arena pelatihan. Setiap tekanan di kantor, setiap lembur yang melelahkan, kini memiliki makna baru. Itu adalah harga yang harus dibayar, batu bata yang harus dikumpulkan untuk membangun rumah impian mereka sendiri.

Di luar jendela kedai, hujan mulai turun, membasahi aspal kota yang memantulkan lampu-lampu jalanan. Kota masih sama bisingnya, masih sama menuntutnya. Namun bagi Raka, Bima, dan Seno, sepi yang menyembuhkan dari puncak gunung itu telah berpindah dan bersemayam di dalam kepala mereka, menjaga kewarasan mereka selagi tangan-tangan itu perlahan mulai menenun asa.

Membayar Harga Kemerdekaan

Dering alarm pada pukul empat pagi di hari Sabtu adalah suara paling dibenci Raka sepanjang hidupnya. Namun pagi itu, suara bising tersebut bersaing dengan rasa ngilu di punggungnya, sisa lembur menyusun laporan akhir bulan yang baru selesai pukul satu dini hari tadi. Ia menatap langit-langit kamar kosnya yang lembap, merasakan tarikan gravitasi kasur yang begitu kuat. Selama lima menit penuh, otaknya berdebat hebat antara kembali memejamkan mata atau bangkit berdiri.

Ingatan tentang sejuknya udara gunung dan janji di Kedai Kopi Klandestin menampar kesadarannya. Dengan erangan pelan, Raka memaksa tubuhnya bangkit.

Dua jam kemudian, ia sudah berdesakan di dalam gerbong kereta komuter menuju Bogor, menahan kantuk sambil membaca diktat tebal tentang tingkat keasaman tanah vulkanik. Bau keringat penumpang lain dan dinginnya pendingin ruangan kereta menjadi saksi bisu transisi gila yang ia jalani. Di hari kerja, ia adalah budak korporat dengan kemeja rapi; di akhir pekan, ia bertransformasi menjadi murid kelas pascapanen kopi yang tangannya kotor oleh getah ceri merah dan tanah pupuk.

Kelas itu jauh dari kata romantis. Raka harus berdiri berjam-jam menyortir biji kopi di bawah atap seng yang panas, membedakan biji yang terserang hama dengan yang cacat genetik. Jari-jarinya kapalan, kuku-kukunya menghitam. Namun anehnya, ketika instruktur kelas menyeduhkan hasil roasting pertama dari biji yang ia sortir sendiri, rasa lelah itu menguap bersama uap kopi yang mengepul. Ada kepuasan primitif yang tidak pernah ia temukan saat menyelesaikan presentasi ratusan halaman di kantor.

Hari Minggu, ritme penyiksaan diri yang sukarela itu berlanjut. Tidak ada waktu untuk bersantai. “Sindikat Pemimpi” memiliki agenda kerja bakti di Manggarai.

Matahari bersinar terik, nyaris memanggang atap asbes gardu tua berukuran tiga kali empat meter yang disewa Seno. Tempat itu dulunya adalah pos ronda yang dialihfungsikan menjadi gudang rongsokan, dipenuhi debu setebal satu sentimeter, sarang laba-laba, dan aroma apek kotoran tikus.

“Kalau aku mati karena infeksi saluran pernapasan hari ini, tolong tulis di batu nisanku bahwa aku gugur demi literasi anak bangsa,” gerutu Bima, suaranya teredam masker kain yang sudah berubah warna menjadi abu-abu kecokelatan. Tangannya memegang sapu lidi yang nyaris botak, mengorek sudut ruangan.

Seno tertawa dari luar, tubuhnya basah kuyup oleh keringat saat mengamplas daun pintu kayu yang berderit menolak untuk diperbaiki. “Tahan sedikit, Sutradara. Setelah ini kita cat dindingnya dengan warna biru langit cerah, dan ruangan kumuh ini akan lahir kembali menjadi surga.”

Raka datang membawa tiga bungkus nasi padang dan es teh manis dalam plastik besar. Ia meletakkan bawaannya di atas dipan bambu yang baru saja dibersihkan. Ketiganya langsung menyerbu makanan itu layaknya orang kelaparan yang tidak makan berhari-hari. Debu yang menempel di tangan dan wajah tidak lagi dipedulikan.

Di tengah kunyahan mereka, Bima merogoh saku celananya yang kotor dan mengeluarkan ponsel. Ia menatap layarnya sejenak, lalu menghela napas panjang, senyumnya sedikit memudar.

“Kabar buruk?” tanya Raka, menangkap perubahan raut wajah sahabatnya.

Bima meletakkan kotak makannya. “Email balasan dari platform media yang kuhubungi minggu lalu. Mereka menolak pitching videoku. Katanya, pasar sedang tidak tertarik dengan dokumenter lambat tentang pemuda yang mencari jati diri. Mereka butuh konten yang memancing kontroversi, atau sesuatu yang viral dalam lima detik pertama.”

Keheningan sejenak menguasai gardu tua itu, menelan suara bising kereta api yang baru saja melintas di rel tidak jauh dari tempat mereka.

Seno membersihkan mulutnya dengan punggung tangan, lalu menatap Bima lurus-lurus. “Lalu? Kau mau menyerah dan kembali membuat video profil perusahaan perbankan yang kaku itu seumur hidupmu?”

“Tentu saja tidak,” Bima mendengus, kembali meraih kotak nasinya dengan kasar. “Aku akan memotong durasinya, mempercepat ritme di awal, dan mengirimkannya ke tiga platform independen lainnya malam ini juga. Kalau perlu, aku akan merilisnya secara mandiri di YouTube dan mengemis pada kalian berdua untuk menyebarkannya.”

Raka tersenyum tipis, merasakan kelegaan yang luar biasa. “Itulah semangatnya. Ingat, kawan-kawan. Membayar harga kemerdekaan memang tidak murah. Cicilannya adalah waktu tidur kita, tenaga kita, dan penolakan-penolakan sialan ini.”

Sore itu, dinding gardu perlahan berubah warna. Di bawah bayangan jingga matahari terbenam Jakarta yang penuh polusi, tiga pemuda itu terus mengayunkan kuas cat. Otot mereka menjerit minta diistirahatkan, bayangan tumpukan pekerjaan kantor esok hari sudah mulai menghantui, namun tawa mereka menggema lebih keras dari sebelumnya. Realita memang menghantam mereka dengan keras, tapi akar mimpi yang mulai mereka tanam ternyata jauh lebih kuat dari yang mereka duga.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *